Rabu, 04 Februari 2015

Date a Girl Who Reads


Date a girl who spends her money on books instead of clothes. She has problems with closet space because she has too many books. Date a girl who has a list of books she wants to read, who has had a library card since she was twelve.

Find a girl who reads. You’ll know that she does because she will always have an unread book in her bag. She’s the one lovingly looking over the shelves in the bookstore, the one who quietly cries out when she finds the book she wants. You see the weird chick sniffing the pages of an old book in a second hand book shop? That’s the reader. They can never resist smelling the pages, especially when they are yellow.

She’s the girl reading while waiting in that coffee shop down the street. If you take a peek at her mug, the non-dairy creamer is floating on top because she’s kind of engrossed already. Lost in a world of the author’s making. Sit down. She might give you a glare, as most girls who read do not like to be interrupted. Ask her if she likes the book.

Buy her another cup of coffee.

Let her know what you really think of Murakami. See if she got through the first chapter of Fellowship. Understand that if she says she understood James Joyce’s Ulysses she’s just saying that to sound intelligent. Ask her if she loves Alice or she would like to be Alice.
It’s easy to date a girl who reads. Give her books for her birthday, for Christmas and for anniversaries. Give her the gift of words, in poetry, in song. Give her Neruda, Pound, Sexton, Cummings. Let her know that you understand that words are love. Understand that she knows the difference between books and reality but by God, she’s going to try to make her life a little like her favorite book. It will never be your fault if she does.

She has to give it a shot somehow.

Lie to her. If she understands syntax, she will understand your need to lie. Behind words are other things: motivation, value, nuance, dialogue. It will not be the end of the world.

Fail her. Because a girl who reads knows that failure always leads up to the climax. Because girls who understand that all things will come to end. That you can always write a sequel. That you can begin again and again and still be the hero. That life is meant to have a villain or two.

Why be frightened of everything that you are not? Girls who read understand that people, like characters, develop. Except in the Twilight series.

If you find a girl who reads, keep her close. When you find her up at 2 am, clutching a book to her chest and weeping, make her a cup of tea and hold her. You may lose her for a couple of hours but she will always come back to you. She’ll talk as if the characters in the book are real, because for a while, they always are.

You will propose on a hot air balloon. Or during a rock concert. Or very casually next time she’s sick. Over Skype.

You will smile so hard you will wonder why your heart hasn’t burst and bled out all over your chest yet. You will write the story of your lives, have kids with strange names and even stranger tastes. She will introduce your children to the Cat in the Hat and Aslan, maybe in the same day. You will walk the winters of your old age together and she will recite Keats under her breath while you shake the snow off your boots.

Date a girl who reads because you deserve it. You deserve a girl who can give you the most colorful life imaginable. If you can only give her monotony, and stale hours and half-baked proposals, then you’re better off alone. If you want the world and the worlds beyond it, date a girl who reads.”
-Rosemary Urquico-


Senin, 15 Desember 2014

Dilema Si ABang Tahu


Matahari sudah benar-benar condong ke barat ketika saya sampai di rumah. Lalu lintas kota Bandar Lampung sore itu ramai sekali. Beberapa titik bahkan sampai benar-benar padat. Saya menemukan rumah dalam keadaan kosong. Bapak sama ibu pasti sedang berkunjung ke kosan, mengengok anak-anak abg yang kelakuan absurdnya cukuplah untuk menyemarakkan sore mereka. Setelah membersihkan muka dari debu-debu jalanan dan sisa bedak pagi tadi, saya pun ngaso di depan kipas angin sambil ngunyah wafer selam*t. Tiba-tiba di depan rumah terdengar klakson-klakson yang dilanjutkan dengan teriakan khas si abang tukang tahu,

“Tahuuu, Tahuuu”

Jadi, di perumahan kami, setiap sorenya akan ada penjaja tahu yang keliling menawarkan tahu dan susu kedelai. Awal-awal saya sampai di Lampung, saya fans papan atasnya susu kedelai abang tahu ini. Tapi sekarang saya udah biasa saja gitu dengan susu kedelainya. Daan, si abang tukang tahu ini akan terus mengklakson di depan rumah hingga ada orang yang menyahut, membeli tahunya atau menolak membeli tahunya karena persediaan tahu masih ada.

Naah, kondisinya sore itu tidak ada yang mungkin memberikan jawaban kepada abang tahu yang sedang teriak-teriak dengan nada crescendo di depan rumah sambil mengklakson-klakson yang sepertinya kalo saya biarkan mungkin akan terus seperti itu sampai subuh (ini saya yang lebay :), selain saya. Membelinya atau menolaknya. Dan kalo saya yang harus menemui si abang tukang tahu, entah untuk membeli tahu atau menolak membeli tahu, berarti saya harus keluar rumah. Dan kalo saya harus keluar rumah, berarti saya harus memakai rok panjang, kemudian mengambil jaket di balik pintu dan memakainya, lalu mengenakan jilbab langsungan, terus mencari-cari kaos kaki yang kadang saya lempar terlalu jauh ke bawah ranjang baruu bisa keluar rumah. Intinya banyak yang harus saya persiapkan. Sebenarnya, dari hati yang paling dalam, saya enggan sekali melakukan hal-hal yang saya sebutkan itu ditengah-tengah  ritual ngaso sambil ngunyah wafer saya yang berharga. Bisa saja sih saya langsung menyambar mukena, memakainya dan keluar, tapi terakhir kali saya keluar rumah pakai mukena begitu, pandangan sang tamu yang saya temui seperti mengatakan

“Mbak nya aliran apa sih? Kemana-mana pake mukena”

Akhirnya saya putuskan untuk berpura-pura tidur. Tapi yang saya tak faham, kenapa pula saya benar-benar mengambil posisi tidur sambil tidak lupa memejamkan mata. Padahal manalah si abang tahu ini liat apa yang sedang saya lakukan di dalam rumah. Posisi tidur sambil memejamkan mata itu bertahan hingga teriakan plus klaksonan itu benar-benar hilang. Lalu saya pun bangun dan melanjutkan makan wafer sambil menertawakan kelakuan absurd itu. Hingga saat ibu bapak pulang dan ibu membuka kulkas hendak masak makan malam

“De, tadi gak beli tahu?”
“Enggak”
“Abang tahunya gak lewat?”
“Lewat tadi”
“Trus kenapa nggak dibeli”
“Enggak, aku pura-pura tidur”
“-__-“

Ah, saya jarang-jarang kok melakukan hal absurd seperti itu. Enjoy :D

Kamis, 11 Desember 2014

SPBU di Suatu Sore


Sore tadi, di perjalanan pulang ke rumah saya mampir ke SPBU. Meniatkan untuk isi bensin, karena berfikir takutnya tidak sempat jika harus isi bensin besok pagi. Akhirnya berbeloklah saya ke SPBU Way halim. Sepertinya sore itu banyak pengendara yang berfikiran seperti saya, lumayan ramai lah SPBU itu.

Setelah saya mengambil tempat mengantri, di sebelah saya tiba-tiba ada motor besar. Entahlah apa nama motornya, yang jelas di body motornya ada tulisan “repsol” or something like that. Pengendaranya menggunakan helm fullface, pakaiannya pun layaknya rider jarak jauh dengan jaket dan sepatu boot. Dari caranya mengambil antrian di sebelah saya, sebenarnya saya sudah curiga.

“ini motor mepet-mepet begini mesti ada maksudnya niih”

Wajar lah ya saya curiga, secara sore itu cuaca agak-agak mendung jadi kalo dia mepet-mepet untuk menghindari terik matahari rasanya mengada-ada. Perlahan antrian mulai maju, motor sebelah saya ikut-ikutan maju. Hati mulai resah tak menentu. Hingga akhirnya tibalah (seharusnya) giliran saya, motor gede itu tiba-tiba maju duluan dan bilang ke mbak petugas SPBU,

“Full tank ya mba”

Mbak petugas SPBU nya sejenak kebingungan karena melihat saya juga maju menyorongkan tangki bensin. Waaah, mas nya cari perkara ini. Fikir saya. Akhirnya saya tidak bisa tinggal diam, saya buka slayer yang sejak tadi menutupi sebagian wajah dan pasang muka default (yang konon katanya muka saya defaultnya muka judes). Saya pandangi masnya yang hanya membuka sebagian kaca penutup helm fullfacenya sambil berkata

“Antri doong mas, situ di belakang saya kan tadi”

Sengaja, suaranya saya bikin kencang. Biar ramai, biar mengaduh sampai gaduh. Oke, mulai lebay. Si mas motor gede nengok sebentar, tapi sepertinya tidak juga mau mengalah mundur. Hingga akhirnya mbak petugas SPBU nya berkata

“Mbak ini duluan yaa” sambil melihat ke arah saya. Saya pun senyum-senyum sambil berkata

“Duapuluhlimaribu ya mba”

Dan dialog berikutnya sama laah seperti kalo kita isi bensin pada umumnya yang dimulai dari angka nol dan sebagainya itu. Si mas moge apa kabar? Dia ngegas-ngegas (in saya) di lampu merah. Haha. Awas cepet abis bensin nya, Mas. Sayangnya tadi saya tidak sedang bersama munir, coba kalo sama munir, pasti saya keliatan jagoan sekali. Anak cewek, pake rok, naek motor supra lama yang lampu sign kanannya gabisa kedip, tempat pijakan kakinya sudah nelangsa hampir copot, dan kalo lewat jalanan jelek maka ia akan berbunyi seperti gerobak. Haha. Tapi si munir sekarang tugasnya mulia euy, dia jadi temen setianya bapak ke mesjid. Semoga istiqomah ya, Mun.

Learning point nya adalaah, yaaah setiap cerita kudu ada learning point nya laah yaa, terkadang memang kita kudu menjaga dan memperjuangkan hak kita. Kalo benar, kenapa harus takut. Karena ini bukan tentang menang atau kalah nya, tapi tentang perjuangannya. Enjoy :D

Sabtu, 26 Juli 2014

Mentari



Jika kalian pernah berada di atas sebuah kapal feri besar yang sedang berlayar di lautan pada pukul 05.20 pagi menuju arah timur, maka itu adalah sebuah moment yang begitu menakjubkan. Tidak perlu musik-musik indah yang dimainkan oleh orkestra terkenal untuk membuatnya menakjubkan. Tidak juga perlu pangeran tampan yang juga duduk di sebelahmu untuk membuatnya menakjubkan. Apalagi kursi empuk atau karpet merah sebagai tempat dudukmu, tidak perlu. Moment itu tetap menakjubkan tanpa semua itu. Meskipun tembang yang mengalun adalah lagu sebuah band tahun 2000an yang akan mengingatkan pada gaya rambut belah tengah penyanyinya. Meskipun yang duduk di sebelah adalah seorang laki-laki yang tidak mandi sejak kemarin sore dan juga seorang anak kecil berambut jagung yang sedang sibuk memainkan ingus. Meskipun hanya duduk di sebuah kursi plastik sederhana. Moment itu tetap menakjubkan.

Sebenarnya yang ingin ku ceritakan ini terjadi setiap harinya, berulang-ulang 7 kali seminggu 30 kali sebulan dan 365 kali setahun. Sebuah peristiwa yang sangat biasa, bahkan mungkin beberapa orang membencinya. Karena moment itu akan membuat orang-orang bersegera untuk menjemput hari. Ya, itu moment terbitnya matahari. Lingkarang berwarna jingga kemerahan itu perlahan, seolah-olah, keluar dari lautan. Menghangatkan pagi yang sedari tadi membuat orang-orang melingkarkan tangan ke badan. Menghalau dingin yang menusuk tulang.  Buatku, setiap pagi adalah magical and glorious moment . Lingkaran besar di ufuk timur berwarna jingga itu seperti membawa harapan baru kemudian memberikan pesan singkat

“Ayo Desy, jadi orang keren lagi hari ini. Lakukan ikhtiar terbaik menjemput janji baik Sang pemilik alam raya”

So, find your own everyday magical and glorious moment. Enjoy :D

Trivia :
Selain Umar, nama yang begitu ku sukai adalah Mentari. Entahlah, mungkin karena kedua nya memiliki karakter yang sama-sama kuat. Umar, sang amirul mu’minin yang tegas tapi begitu dicintai rakyatnya. Sedangkan Mentari, salah satu makhluk Nya yang begitu berjasa untuk kehidupan manusia. Nak, kelak mau ya kau kuberi nama salah satu (atau keduanya) dari nama-nama baik itu. J

Kamis, 17 Juli 2014

Seberapa Pantas?

Waduk Gadjah Mungkur, view from bridge near it

Teringat sebuah percakapan dengan seorang sahabat si oknum MN beberapa hari yang lalu,

Kalo berbicara soal takdir kita berbicara soal kepantasan. Lulus kuliah, dapet beasiswa, ketemu jodoh, semua itu tinggal kita sudah pantas atau belum bertemu dengan takdir tersebut.

Awalnya saya berfikir, takdir itu domain utamanya adalah aqidah. Jelas ya disebutin di rukun iman, percaya pada qada dan qodar. Tapi ternyata setelah itu ada yang namanya kepantasan yang dikatakan oknum MN. Kamu akan sampai pada takdir menjadi sarjana adalah saat kamu sudah pantas menjadi sarjana. Dan bagiannya Allah ada setelah ini, menurunkan takdir itu saat kita sudah pantas bertemu dengannya.

Sabtu, 12 April 2014

Gift From God



You don’t choose your familly, they are God’s gift to you as you are to them.

Entah gimana ceritanya bisa ketemu keluarga yang ini. Ina, mb ria, titin, azam, bapak. Keluarga bersahaja yang dengan skenario begitu apik Allah pertemukan kami. Hari itu, hari itu kami menyaksikan bagaimana keluarga itu benar-benar pemberian dari Allah. Menyempatkan diri untuk hadir di tengah begitu banyaknya kewajiban yang harus diselesaikan, terbayar tunai dengan pertemuan singkat itu. Aah, kita benar-benar tak punya kuasa untuk memilih mereka, melainkan Allah memberikannya dan bagian kita adalah menjaga agar tetap terjalin ikatannya dan senantiasa membawa keberkahan. Terakhir, biarkan saya menutup dengan mengutip syair terkenalnya Imam syafii tentang merantau. Karena memang dengan sebab merantau dan berjalan menyusuri tiap jengkal bumi Allah inilah kami bertemu dengan Ina dan Bapak sekeluarga.
Enjoy, :D

Orang pandai dan beradab tidak akan diam di kampung halaman, Tinggalkan negrimu dan merantaulah ke negeri orang. Pergilah kau, kan kau dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.



 



Senin, 25 Februari 2013

Menjemput Keberkahan


Kali ini ingin rasanya aku ceritakan kisah manis Ali (Radiallahuanhu) dan Fatimah (Radiallahuanha) kepada kalian. Menceritakan selalu menjadi moment untuk mengingat kembali bukan?

Terkisah Ali kecil tinggal bersama Muhammad (Allahumma shalli wa salim alaih) di sebuah rumah sederhana. Bersama dengan Khadijah (Radiallahu anha), Zaid bin Haritsah dan keempat anak beliau Ali kecil menjalani masa-masa awal kenabian. Merasakan didikan rumah tangga Rosulullah Sang junjungan bersama Khadijah yang mulia menjadikannya kanak-kanak pertama yang beriman Allah sebagai Rabb nya dan Muhammad sebagai Rosulullah. Dan tentu saja Ali tumbuh menjadi Pemuda tangguh dan pemberani bersama dengan sepupu sepupunya, termasuk Fatimah putri bungsu di rumah itu.

Ali, yang tak pernah sadar apa nama perasaan yang meliputi hatinya selama bertahun-tahun, tersentak ketika mendengar Abu Bakar (Radiallahuanhu), sahabat terkasih Rosul datang meminang Fatimah. Terkenang di pelupuk mata keutamaan Abu bakar. Dialah yang menemani perjalanan Rosulullah hijrah sementara Ali yang menggantikan posisi Rosulullah di tempat pembaringannya. Abu Bakar, saudagar kaya raya yang banyak membela kaum tertindas. Tersebutlah nama Bilal, keluarga Yasir yang pernah diselamatkan Allah melalui tangan Sang Saudagar murah hati. Kabar yang datang berikutnya bagai hujan di tengah kemarau, Rosulullah dengan sangat baik menolak pinangan Abu Bakar. Bersinarlah kembali cahaya mata pemuda itu.

Belum sempat hujan menyemaikan benih benih harapan, kabar berikutnya tak kalah melebarkan pupil. Umar sang pembeda kebenaran dan kebathilan (Radiallahuanhu) datang mengutarakan maksud yang sama seperti sahabatnya, meminang Fatimah. Salah satu dari dua nama yang didoakan langsung oleh Rosulullah agar berislam. Sahabat yang dengan keislamannya menambah kuat barisan umat islam saat itu. Dengan keberaniannya mengikrarkan hijrahnya di depan ka’bah yang ramai oleh para pembesar kaum kafir. Bahkan setan pun lari tunggang langgang jika berpapasan dengan Umar Al Khattab. Pastilah kedudukan Umar Al Khattab di sungguh mulia di sisi Rosulullah. Kabar penolakan kembali datang menumbuhkan harapan. Umar Al Al Faruq kembali ditolak dengan baik oleh ayah tercinta Fatimah Binti Muhammad.

Dua kali kabar penolakan tak juga membuat Ali membulatkan tekad untuk datang meminang putri Rosulullah tersebut. Perasaan tidak layak, hanyalah pemuda miskin yang belum cukup menghidupi keluarga senantiasa dibisikkan oleh syetan terkutuk. Hingga datanglah Abu Bakar dengan tergopoh menyampaikan sebuah pesan